Kebanjiran arus
informasi sudah mulai dirasakan kehadirannya di zaman yang penuh dengan
kemajuan teknologi saat ini. Banjirnya informasi-informasi tersebut datang
melalui berbagai jenis media, baik itu media cetak, media elektronik hingga
media online yang mulai populer. Dengan bantuan pilihan jenis media, informasi
tersebut dapat diakses dimana saja dan kapan saja sesuai dengan pemenuhan
kepuasan masing-masing individu yang
mengaksesnya.
Fenomena banjirnya
informasi ini justru menjadi ‘sirine’ bagi masyarakat untuk selektif dalam
mencari informasi dan konten-konten dalam media massa. Hal ini dilihat dari
kualitas informasi dan konten media massa yang efektivitasnya mulai menurun.
Banyak informasi yang telah di-setting
oleh perusahaan media agar dapat menarik perhatian masyarakat sebagai khalayak.
Setting-an ini tidak lain dan tidak
bukan bertujuan dalam mencapai rating yang
nantinya dapat digunakan media untuk menjaring iklan-iklan masuk ke dalam media
itu sendiri. Kehadiran iklan itu sendiri akan menambah kas media tersebut.
Sudah sangat jelas bahwa media telah mengarah pada paham kapitalis yang
menjadikan masyarakat sebagai sumber keuntungan.
“Kualitas informasi
semakin lama semakin menurun, artinya ada banyak rekayasa yang dilakukan dan
menganggap bahwa masyarakat mau saja menerima apapun yang disajikan oleh
media.” Ujar Dra.Yudisiani, M.Si saat ditemui pada Kamis 12/02/2015.
Media terkadang menjadikan
masyarakat yang berlatarbelakang kelas ekonomi menengah ke bawah sebagai
sasaran mereka untuk mencapai rating.
Media menganggap bahwa masyarakat ini tidak memiliki filter yang kuat untuk
lebih menyeleksi konten yang ada di media. Masyarakat pun mulai terasa lelah
dengan kondisi tekanan ekonomi yang menjerat mereka, sehingga mereka pun sudah
tidak memiliki kesadaran lagi untuk menyeleksi ulang dan menerima saja apa yang
disampaikan media.
Dra. Yudisiani, M.Si
yang merupakan dosen dari mata kuliah Komunikasi Massa ini juga menuturkan
bahwa awal munculnya konten media yang berupa telenovela sangat mempengaruhi
masyarakat sebagai khalayak. Telenovela ini memiliki unsur hiburan yang
digemari masyarakat dan dapat mengusir stres yang dialami sebagian orang.
Apalagi masyarakat di kota besar yang biasanya banyak mengalami tekanan.
“Telenovela ini awalnya
muncul sebagai hiburan yang bisa mengusir stres orang, apa lagi masyarakat kota
besar ya, untuk mengatasi stres tersebut maka diperlukanlah tayangan telenovela
ini.” Tutur Dra.Yudisiani, M.Si
Namun,
Dra.Yudisian,MS.i juga menambahkan bahwa konten telenovela seperti ini justru
tidak memberikan ruang bagi publik untuk berpikir hal-hal yang rasional. Ada
hal-hal yang terdapat di telenovela tidak bisa dibawa ke dunia nyata manusia
dalam menjalani kehidupan.
Ada banyak kepuasan
palsu yang diberikan media kepada khalayak. Kepuasan ini biasanya dimasukkan ke
dalam sinetron yang seakan-akan khalayak merasakan apa yang dirasakan oleh
tokoh yang sedang bahagia dalam sinetron tersebut. Khalayak seolah-olah juga
sedang di ‘nina bobo’kan oleh media.
Dapat diamati begitu
banyak informasi dan konten media masa yang dapat menjebak khalayak untuk
menghabiskan waktu menyimak ataupun menyaksikannya melalui berbagai macam jenis
media. Jumlah yang banyak inilah yang mengharuskan masyarakat untuk benar-benar
cerdas dalam arti ‘melek’ menggunakan media. Ini dimaksudkan agar masyarakat
tidak menjadi bahan yang akan dieksploitasi oleh media yang bermain.
“Kita sebagai pengguna
harus selektif menggunakan media, memilah milah mana konten yang penting mana yang
tidak penting. Jangan sampai nantinya kita yang dieksploitasi oleh media.”
Imbuh Dra.Yudisiani,M.Si seraya mengingatkan generasi muda agar tidak menjadi
korban kepentingan media. (SRS)