Kamis, 12 Februari 2015

Literasi Media Cerminan ‘Melek’ Media



Kebanjiran arus informasi sudah mulai dirasakan kehadirannya di zaman yang penuh dengan kemajuan teknologi saat ini. Banjirnya informasi-informasi tersebut datang melalui berbagai jenis media, baik itu media cetak, media elektronik hingga media online yang mulai populer. Dengan bantuan pilihan jenis media, informasi tersebut dapat diakses dimana saja dan kapan saja sesuai dengan pemenuhan kepuasan masing-masing individu  yang mengaksesnya.

Fenomena banjirnya informasi ini justru menjadi ‘sirine’ bagi masyarakat untuk selektif dalam mencari informasi dan konten-konten dalam media massa. Hal ini dilihat dari kualitas informasi dan konten media massa yang efektivitasnya mulai menurun. Banyak informasi yang telah di-setting oleh perusahaan media agar dapat menarik perhatian masyarakat sebagai khalayak. Setting-an ini tidak lain dan tidak bukan bertujuan dalam mencapai rating yang nantinya dapat digunakan media untuk menjaring iklan-iklan masuk ke dalam media itu sendiri. Kehadiran iklan itu sendiri akan menambah kas media tersebut. Sudah sangat jelas bahwa media telah mengarah pada paham kapitalis yang menjadikan masyarakat sebagai sumber keuntungan.

“Kualitas informasi semakin lama semakin menurun, artinya ada banyak rekayasa yang dilakukan dan menganggap bahwa masyarakat mau saja menerima apapun yang disajikan oleh media.” Ujar Dra.Yudisiani, M.Si saat ditemui pada Kamis 12/02/2015.

Media terkadang menjadikan masyarakat yang berlatarbelakang kelas ekonomi menengah ke bawah sebagai sasaran mereka untuk mencapai rating. Media menganggap bahwa masyarakat ini tidak memiliki filter yang kuat untuk lebih menyeleksi konten yang ada di media. Masyarakat pun mulai terasa lelah dengan kondisi tekanan ekonomi yang menjerat mereka, sehingga mereka pun sudah tidak memiliki kesadaran lagi untuk menyeleksi ulang dan menerima saja apa yang disampaikan media.

Dra. Yudisiani, M.Si yang merupakan dosen dari mata kuliah Komunikasi Massa ini juga menuturkan bahwa awal munculnya konten media yang berupa telenovela sangat mempengaruhi masyarakat sebagai khalayak. Telenovela ini memiliki unsur hiburan yang digemari masyarakat dan dapat mengusir stres yang dialami sebagian orang. Apalagi masyarakat di kota besar yang biasanya banyak mengalami tekanan.

“Telenovela ini awalnya muncul sebagai hiburan yang bisa mengusir stres orang, apa lagi masyarakat kota besar ya, untuk mengatasi stres tersebut maka diperlukanlah tayangan telenovela ini.” Tutur Dra.Yudisiani, M.Si

Namun, Dra.Yudisian,MS.i juga menambahkan bahwa konten telenovela seperti ini justru tidak memberikan ruang bagi publik untuk berpikir hal-hal yang rasional. Ada hal-hal yang terdapat di telenovela tidak bisa dibawa ke dunia nyata manusia dalam menjalani kehidupan.

Ada banyak kepuasan palsu yang diberikan media kepada khalayak. Kepuasan ini biasanya dimasukkan ke dalam sinetron yang seakan-akan khalayak merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh yang sedang bahagia dalam sinetron tersebut. Khalayak seolah-olah juga sedang di ‘nina bobo’kan oleh media.

Dapat diamati begitu banyak informasi dan konten media masa yang dapat menjebak khalayak untuk menghabiskan waktu menyimak ataupun menyaksikannya melalui berbagai macam jenis media. Jumlah yang banyak inilah yang mengharuskan masyarakat untuk benar-benar cerdas dalam arti ‘melek’ menggunakan media. Ini dimaksudkan agar masyarakat tidak menjadi bahan yang akan dieksploitasi oleh media yang bermain.

“Kita sebagai pengguna harus selektif menggunakan media, memilah milah mana konten yang penting mana yang tidak penting. Jangan sampai nantinya kita yang dieksploitasi oleh media.” Imbuh Dra.Yudisiani,M.Si seraya mengingatkan generasi muda agar tidak menjadi korban kepentingan media. (SRS)