Wahai Penguasa yang sedang
berdiri gagah diatas sana!
Di atas singgah sana tampuk kekuasaan yang semu yang
penuh dengan permainan lucu!
Kelucuan yang ditabur bumbu kekejaman yang
mematikan urat nadi rakyat!
Rakyat telah mati. Bukan mati yang hanya sekedar fisik,
namun mati karena harapan yang tidak pernah terjadi.
Harapan hanya sebatas
retorika di ujung lidah.
Itupun terucap dengan kelu tak berselera.
Memanfaatkan
momentum mencari dukungan.
Ketika mencari dukungan, rakyat seolah dijadikan
raja yang sedang dimanja-manja.
Kau penguasa!! Rela berpanas-panasan,
berbecek-becekan, berdesak-desakan, berlelah-lelahan merasakan apa yang selama
ini rakyat jalani.
Memperlihatkan diri ‘seolah’ mengerti apa yang sebenarnya
terjadi.
Namun ketika telah melenggangkan diri pada hangatnya kursi?? Rakyat
kau tinggal pergi tanpa kembali tanpa mengabdi.
Gambaran kedekatanmu dulu hanya
sebatas dokumentasi diri.
Yang maknanya tidak akan pernah ABADI.
Justru hanya
‘kepentingan’ mu lah yang ABADI.